APA
YANG dimaksud dengan dunia? Firman-Nya, “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya dunia itu hanyalah permainan dan
sesuatu yang melalaikan,... Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah
kesenangan yang menipu” (AS. Al-Hadiid [57]: 20).
Dunia adalah segala sesuatu yang membuat kita lalai dari
ketaatan kepada Allah. Shalat, puasa (shaum)
atau sedekah tetap dikatakan urusan dunia jika niatnya ingin dipuji oleh
makhluk, hingga melalaikan hati.
Sebaliknya, orang yang sibuk siang-malam mencari uang
untuk didistribusikan kepada yang memerlukan atau untuk kemaslamatan umat
(bukan untuk kepentingan pribadi), maka dia tidak dikatakan lalai terhadap
Allah, walau aktivitasnya seolah duniawi. Artinya segala sesuatu yang membuat
kita taat kepada Allah, maka hal itu bukanlah urusan dunia.
Bagaimana ciri orang yang cinta dunia? Jika seseorang
mencintai sesuatu, maka dia akan diperbudak oleh sesuatu yang dicintainya itu.
Jika orang sudah cinta dunia, maka akan datang berbagai penyakit hati. Dia
menjadi sombong, dengki, serakah, atau lelah memikirkan hal yang tak ada.
Semakin dia mencintai dunia, dia akan semakin serakah. Bahka, dia bisa berbuat
keji unruk mendapatkan dunia yang diinginkannya. Pikirannya selalu terfokus
pada dunia, pontang-panting siang malam mengejar dunia untuk kepentingan
dirinya.
Ciri lainnya adalah takut kehilangan. Seperti orang yang
bersandar pada kursi, dia akan takut sandarannya diambil. Orang yang bersandar
pada pangkatg atau kedudukan, dia akan takut jika pangkat atau kedudukannya
diambil. Oleh karena itu, pecinta dunia tidak akan pernah bahagia.
Rasulullah yang mulia, walau “dunia” lekat dan mudah
baginya, tetapi semua itu tak pernah mencuri hatinya. Misalnya, saat pakaian
dan kuda terbaiknya ada yang meminta, beliau memberikannya dengan ringan.
Beliau juga pernah menyedekahkan kambing sebanyak satu lembah. Inilah yang
membuat beliau tak pernah terpikir unutk membuat aniaya.
Semua yang ada dilangit dan dibumi titipan Allah semata.
Kita tidak mempunyai apa-apa. Hidup didunia hanya mampir. Terlahir sebagai bayi,
membesar sebentar, menua, dan akhirnya mati. Kemudia, terlahir manusia
berikutnya. Begitu seterusnya.
Bagi orang-orang yang telah sampai pada keyakinannya
bahwa semuanya titipan Allah dan total
milik-Nya, dia tak akan pernah sombong, minder, iri ataupun dengki. Bahkan,
dia akan selalu siap jika titipan-Nya diambil oleh Pemilik-nya, karena segala
sesuatu dalam kehidupan dunia ini tak ada artinya. Harta, gelar, pangkat,
jabatan, dan popularitas, tak ada artinya jika tak digunakan dijalan Allah. Hal
yang berarti dalam hidup ini hanyalah amal-amal kita. Oleh karena itu, jangan
pernah “ada atau tiadanyha dunia” ini meracuni hati kita. Dengan “adanya”
jangan sombong; dengan “sedikitnya,” tak usah minder.
Kita harus meyakini bahwa siapapun yang tidak pernah
berusaha melepaskan dirinya dari kecintaan dunia, akan sengsara hidupnya.
Mengapa? Sumber dari segala fitnah dan kesalahan adalah ketika sesorang begitu
mencintai dunia. Semoga Allah mengaruniakan nikmatnya hidup yang tak
terbelennggu oleh dunia, kepada kita. Amin.






0 komentar:
Posting Komentar
Berkomentarlah yang Sopan dan sekiranya bisa membangun Blog ini menjadi lebih baik :) Terma Kasih ..